Belanja Bulanan Bakal Boncos Kalau Sering Lakukan 5 Kesalahan Ini

Seringkali kita merasa gaji yang diterima tidak cukup untuk hidup satu bulan. Ibaratnya gaji hanya numpang lewat di rekening. Begitu terima gaji langsung amblas untuk belanja bulanan dan membayar ini-itu.

Padahal rutinitas belanja tiap bulan adalah salah satu aktivitas penting dalam soal keuangan. Namun ada sederet kesalahan yang sering dilakukan saat belanja bulanan yang bisa mengganggu fondasi finansial.

Simak daftarnya seperti disarikan oleh UrbanLife.id di bawah ini, semoga gak ada yang pernah kamu lakukan ya.

1. Gak bikin daftar belanjaan

Improvisasi dan kreativitas itu penting. Tapi bila soal bujet belanja bulanan, sebaiknya bersikaplah sekaku mungkin.

Dalam hal ini, daftar belanjaan mesti dibikin dan dipatuhi layaknya Undang-Undang Dasar 1945. Daftar ini disesuaikan dengan bujet, dan tentunya kebutuhan selama sebulan ke depan.

Bila pergi tanpa rencana yang mau dibeli apa aja, siap-siap merogoh kocek dalam-dalam saat belanja. Bahkan mungkin kocek orang lain ikut dirogoh saking banyaknya pengeluaran.

Daftar ini harus dijadikan pegangan agar bujet gak bocor. Bikin saja dalam catatan dihandphone, simpel. Tapi perhatikan, gak ada gunanya bikin daftar ini kalau gak ditaati.

2. Gak cek promo di supermarket yang dituju

Supermarket sering bikin katalog belanja pada periode tertentu, yang antara lain berisi informasi promosi. Salah kalau kita gak cek promo itu sebelum belanja.

Promo itu bisa dilihat di iklan media massa. Bisa juga mengecek langsung situs web supermarket tersebut dan membandingkannya dengan harga di supermarket lain. Supermarket gede sih biasanya memajang info itu buat di-download dan selalu diperbarui.

Sebelum bikin daftar belanjaan, cek dulu promo ini. Kalau mau cek langsung di supermarketnya sih bisa, karena ada katalog yang dicetak. Tapi kita gak bisa siap-siap sejak dari rumah, juga gak bisa bandingin harga di sana dengan harga di tempat lain.

Selain cek promo, jangan lupa cek kartu kredit mana yang ngasih potongan harga di supermarket yang kamu tuju. Lumayan kan double hematnya.

3. Asal beli banyak

Banyak produk yang ditawarkan dengan harga lebih murah kalau beli banyak sekalian. Misalnya pasta gigi 1 unit Rp 2.000, kalau beli 3 langsung harganya jadi Rp 5.500 sepaket.

Namun hati-hati, sebaiknya lihat dulu barang yang mau dibeli banyak itu. Ada kalanya barang yang dijual sepaket itu udah mau kedaluwarsa. Dengan dijual banyak sekalian, diharapkan stoknya cepat habis.

Buat konsumen, tawaran seperti itu malah bisa merugikan. Misalnya mau beli tepung terigu. Bila beli banyak sekalian, apa pasti bakal habis sebelum kedaluwarsa?

Kecuali memang mau tiap hari bikin roti. Hal yang seperti ini mesti diteliti agar gak rugi kalau beli banyak sekalian lantaran malah terbuang percuma.

4. Pede beli produk brand supermarket

Brand supermarket memang umumnya harganya lebih murah ketimbang merek komersial di pasaran. Tapi harganya yang murah bukan berarti harus dibeli.

Bandingkan dulu kualitasnya dengan merek lain. Siapa tahu efisiensinya kalah. Atau rasanya kurang sedap dibanding yang lain sehingga gak dikonsumsi lantaran gak disukai.

Misalnya mau beli tisu dengan merek supermarket yang dikunjungi. Ternyata, tisu itu amat tipis. Habis makan, gak cukup satu lembar tisu untuk mengelap mulut.

Sebaliknya, tisu merek lain lebih mahal, tapi lebih tebal. Cukup satu lembar tisu, minyak dan kotoran lainnya langsung lenyap. Nah, bila dihitung-hitung, harga tisu merek supermarket jatuhnya lebih mahal karena cepat habis.

Lagian, hidup hemat gak selalu identik dengan barang-barang yang murah. Tetap harus dicek kualitasnya agar uang yang keluar gak sia-sia lantaran barang itu hanya dipakai sebentar karena kurang bagus.

Belanja bulanan seharusnya jadi rutinitas yang menyenangkan, bukan bikin males karena mesti keluar duit. Tengok lagi kebiasaan kita dalam belanja, jangan sampai menemukan kesalahan di atas.

5. Gak pernah evaluasi belanja bulanan

Di awal-awal kita melakukan pengelolaan gaji pasti akan merasa beratn karena belum terbiasa. Namun, lama-kelamaan akan terasa lebih mudah.

Dengan membuat evaluasi, maka kita bisa melihat perubahan yang terjadi. Selalu mencatat pengeluaran sekecil apapun dan hitung kembali saat akhir bulan untuk menentukan apakah jumlah tersebut memang layak dibelanjakan?

Jika ternyata kita mengeluarkan untuk hal yang tidak perlu, sebaiknya lebih berhati-hati di bulan depannya agar tidak melakukan hal serupa. Meski terlihat sederhana, evaluasi ini akan membantu untuk mewujudkan pengelolaah keuangan yang baik.

Persentase Pembagian Gaji

Lalu, berapa persentase ideal untuk penggunaan dana yang kita keluarkan untuk kebutuhan sehari-hari?

Elizabeth Warren dalam bukunya All Your Worth: The Ultimate Lifetime Money Plan, mengenalkan sistem 50:30:20, sebuah cara efektif yang bisa kita terapkan untuk mengelola keuangan. Pendapatan yang digunakan dalam pembagian ini adalah pendapatan bersih yang sudah dikurangi pajak dan lain-lain.

Untuk mempelajari sistem pembagian tersebut, kita ambil contoh pendapatan bersih yang diterima Rp. 3.000.000

1. 50 % untuk Pengeluaran Wajib

Setengah dari pendapatan bersih yang kita terima dialokasikan untuk pengeluaran wajib, seperti kebutuhan makan, transportasi, bayar tagihan air/listrik/telepon, dan uang sekolah anak. Bagian ini wajib didahulukan sebelum mengurusi pembayaran lainnya.

Jadi, 50% dari Rp 3.000.000 adalah Rp 1.500.000. Jumlah ini harus kita sisihkan setiap bulannya untuk pengeluaran wajib.

2. 30 % untuk Pengeluaran Tambahan

Setelah menyisihkan separo dari pendapatan bersih, kita bisa menggunakan 30% dari gaji untuk pengeluaran tambahan, seperti rekreasi keluarga atau membeli mainan anak.

Jika suatu ketika terjadi kekurangan dana pada pengeluaran wajib, kita bisa mengambil dari pos 30% ini.

30% dari Rp 3.000.000 adalah Rp 900.00. Maka Rp 900.000 ini dapat digunakan untuk keperluan diluar kebutuhan pokok.

3.  20% untuk Pengeluaran untuk tabungan

Sekecil apapun yang kita sisihkan untuk menabung, jika dilakukan secara tertib dan rutin, maka akan terasa manfaatnya jika suatu saat kita membutuhkannya.

20% dari Rp 3.000.000 adalah Rp 600.000. Dari jumlah ini yang bisa kita tabung untuk keperluan masa mendatang, berinvestas, modal usaha..

Mengelola gaji adalah hal yang susah-gampang. Dikatakan susah karena pada awalnya akan terasa berat, namun jika sudah terbiasa maka akan menjadi mudah. Tentu saja dalam melakukannya diperlukan komitmen diri dan disiplin yang kuat. Mari kelola gaji dengan bijak!

© 2017 Urbanlife.id