Hari Gini Harus Pakai e-Money, Uang Plastik Elektronik!

Masyarakat Indonesia sudah menggunakan uang dalam bentuk kertas dan koin selama hampir satu abad sebagai alat tukar yang sah dan diakui oleh negara. Dalam perkembangannya, bentuk alat tukar di negara kita mengalami beberapa kali perubahan. Bahkan, sekarang kita mengenal e-Money seperti yang pada umumnya juga digunakan di belahan dunia lain.

Pada era informasi digital, alat tukar untuk bertransaksi juga beradaptasi sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan manusia yang semakin meningkat dan bervariasi. Belakangan, hampir seluruh bank mengeluarkan alat transaksi praktis yang banyak dikenal dengan sebutan e-Money atau uang elektronik.

Uang elektronik berwujud kartu plastik yang pada umumnya digunakan untuk kartu debit dan kartu kredit. Bedanya, cara menggunakannya lebih praktis. Nasabah yang memiliki kartu tersebut cukup menyentuhkan kartu ke alat sensor yang bisa mendeteksi dan membaca data yang terdapat di dalam kartu yang digunakan tanpa menggunakan nomor identifikasi pribadi atau PIN.

Cara bertransaksi seperti demikian dipercaya menjadi cara tercepat untuk bertransaksi dan bisa membantu efisiensi waktu sehingga tidak terjadi antrian panjang untuk melakukan transaksi dimanapun.

Keuntungan berupa terciptanya waktu yang lebih efisien ini juga menjadi salah satu alasan ditiadakannya transaksi tunai yang menggunakan uang tunai dan tenaga kerja manusia di seluruh gerbang tol yang ada di Jabodetabek. Sosialisasi mengenai penerapan penggunaan uang elektronik untuk bertransaksi di gerbang tol ini sudah diinformasikan lama sebelum penerapan.

Namun, penggunaan uang elektronik di sebagian gerbang tol mulai diterapkan, masih banyak pengguna tol yang belum memiliki uang elektronik. Walhasil, hal ini menimbulkan kemacetan panjang di beberapa gerbang tol di hari pertamanya. Bahkan sampai saat ini, kadang masih sering dijumpai kemacetan di beberapa gerbang tol yang disebabkan baik oleh pengguna jalan tol yang lupa mengisi ulang uang elektroniknya atau mesin pembaca uang elektronik yang tidak berfungsi dengan baik.

Sampai saat ini, efektifitas penerapan penggunaan uang elektronik di gerbang tol menjadi perdebatan panjang. Beberapa pengguna jalan tol merasa harus meluangkan waktu khusus untuk mengisi ulang uang elektroniknya di ATM atau minimarket. Tidak disisakannya sama sekali gerbang khusus tunai di gerbang tol menuntut pengguna jalan tol untuk disiplin dan selalu memastikan uang elektroniknya dalam kondisi memiliki saldo yang cukup.

Apabila mesin pembaca sudah berfungsi dengan maksimal, masih perlu didukung oleh perilaku pengguna jalan tol yang disiplin dan tertib. Maka ke depannya akan tercipta keteraturan dan penggunaan waktu yang efisien ketika bertransaksi di gerbang tol.

Dibalik keuntungan yang ditawarkan kepada nasabah dan pihak bank yang mengeluarkan produk uang elektronik, ada juga beberapa kerugian yang mungkin bisa dialami oleh nasabah pemegang kartu elektronik ini.

Dana yang dimasukkan ke kartu uang elektronik tersebut bersifat sama seperti tunai. Namun dengan akses yang bisa dilalui oleh siapapun yang memegang kartu tersebut membuat alat transaksi ini menjadi kurang aman. Apabila kartu hilang, nasabah tidak dapat memblokirnya seperti kartu debit atau kartu kredit. Dana di dalam kartu tersebut dapat digunakan oleh siapapun yang memilikinya.

Selain itu, penggunaan uang elektronik yang diwajibkan pada setiap gerbang tol masih terasa belum maksimal dengan beberapa bentuk kesalahan teknis yang justru membuat kemacetan menjadi lebih parah.

Dengan adanya keharusan bagi setiap pengendara kendaraan beroda empat untuk memiliki uang elektronik ini, menjadi lahan bisnis yang menguntungkan bagi penyedia jasa isi ulang kartu uang elektronik. Pemegang kartu uang elektronik akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 1.000 untuk setiap pengisian ulang. Untuk pengisian ulang bebas biaya, pemegang kartu dapat melakukan isi ulang e-Money di ATM.


Konten ini adalah kerjasama antara UrbanLife.id dengan Megakarya Propertyndo.

© 2017 Urbanlife.id