6 Kesalahan Penyebab Hunian Sulit Laku Saat Dijual

Iklan bertuliskan “apartemen dijual” saat ini banyak ditemukan. Beriklan di situs jual beli properti online jadi favorit. Apa semudah itu menjual hunian? Nyatanya, ada beberapa sebab yang bikin hunian jadi lama dan sulit laku untuk terjual.

Apalagi jika hunian yang akan dijual dipasarkan melalui layanan online. Cara ini diklaim lebih mudah, cepat serta praktis dan memungkinkan mudah dicari oleh calon pembeli.

Sayangnya, masih banyak kekeliruan hingga kesalahan yang sering dilakukan oleh banyak masyarakat saat akan menjual hunian miliknya. Bahkan, ketika sudah melakukan banyak cara sekalipun.

Mulai dari menyebarkan informasinya melalui kerabat, hingga memasang iklan rumah atau apartemen yang akan dijual di berbagai macam situs online sekalipun.

Lalu, apa saja kesalahan-kesalahan yang kerap terjadi saat kita akan menjual properti? Berikut ini beberapa kesalahan yang harus kita waspadai.

Menetapkan harga properti tanpa pertimbangan bijak bikin hunianmu sulit laku dijual

Harga sebuah hunian yang akan dijual masih menjadi masalah yang sensitif bagi masyarakat Indonesia. Kemampuan membeli properti dengan harga yang sangat mahal masih menjadi pertimbangan masyarakat.

Seringkali kesalahan yang dilakukan oleh masyarakat saat memasang iklan menjual properti adalah menawarkannya dengan harga yang tidak masuk akal. Harga ini pun tentunya berpengaruh pada beberapa faktor.

Hal pertama adalah tentang lokasi hunian yang akan dijual. Jika ingin menjualnya dengan harga yang tinggi, namun lokasinya berada di pinggiran kota, tentunya akan membuat banyak masyarakat untuk berpaling ke lokasi yang harganya lebih murah.

Contoh berikutnya adalah faktor luas tanah dan luas bangunan. Luas ini biasanya akan menjadi pertimbangan calon pembeli untuk membeli rumah atau apartemen.

Jika kita ingin menjual rumah yang luas bangunan dan tanah yang kecil, namun mematok harga yang mahal, calon pembeli pastinya akan berpikir dua kali untuk membeli rumah tersebut. Selain itu, sebaiknya kita juga harus fleksibel jika bicara tentang harga rumah yang akan dijual.

Agar tidak sepi peminat, maka tawar menawar pun pastinya wajib kita siapkan. Jangan terlalu ngotot dengan harga yang kita tawarkan pada calon pembeli. Jika terus dipaksakan, maka tidak akan ada yang tertarik dengan rumah yang akan kita jual.

Agar hal ini tidak terjadi pada kita yang sedang berencana untuk menjual, perhatikan selalu harga pasaran sebuah properti. Misalnya, jika kita memiliki unit apartemen yang berada di Bintaro, Tangerang Selatan, pastikan untuk tidak menempatkan harga jual seperti di Jakarta Selatan.

Sekali lagi, pertimbangkan harga yang sesuai dengan kondisi rumah yang akan dijual. Jangan mematok terlalu tinggi dan biasakan untuk selalu melakukan proses tawar menawar, agar gak sulit laku terjual.

Menjual dengan kondisi fisik rumah yang berantakan

Kesalahan berikutnya setelah menjual rumah dengan harga yang tidak masuk akal adalah dengan mengabaikan kondisi fisik dari rumah itu sendiri.

Artinya ketika kita berencana akan menjual rumah tidak memerhatikan kesiapan fisik dari rumah tersebut. Misalnya, bagaimana kondisi listrik dan air yang disediakan untuk rumah.

Hal ini masih ditambah dengan sistem saluran pembuangannya tidak bekerja dengan baik. Kondisi dinding, atap rumah, hingga ilalang dan debu-debu yang masih berserakan di sekitar taman serta bagian kaca rumah menandakan bahwa kondisi fisik rumah belum layak untuk dijual.

Hal-hal seperti ini akan membuat calon pembeli berpikir dua kali untuk membeli rumah yang dijual. Sebanyak apa pun kita memasang klan rumah dijual atau menawarkannya kepada kerabat terdekat, mereka akan berpikir dua kali untuk membeli rumah ini.

Lokasi rumah tidak didukung fasilitas umum

Kesalahan penjualan rumah berikutnya adalah menjual tempat tinggal yang lokasinya tidak strategis. Sebagai contoh, lokasi ini berada di tempat-tempat yang lokasinya di gang sempit, jauh dari fasilitas-fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah hingga minimarket.

Jika ini terjadi, biasanya banyak calon pembeli yang mulai mengurungkan niatnya untuk membeli rumah dengan lokasi yang tidak strategis ini. Namun, akan berbeda jika lokasi rumah yang dijual berada dekat dengan fasilitas-fasilitas umum.

Jika perlu, ketika kita memasang iklan “rumah dijual” jelaskan secara detail tentang fasilitas-fasilitas umum yang berada di sekitarnya.

Tidak memasang “harga kotor”

Selain harga yang mahal, masih ada istilah “harga kotor” yang sering dilakukan oleh si penjual rumah.

Harga kotor yang dimaksud tentu saja bukan harga yang sengaja dinaikkan karena banyak masyarakat yang sedang mencari rumah. Namun, istilah ini merupakan harga yang sudah dihitung berdasarkan biaya-biaya administrasi saat proses jual beli berlangsung.

Saat akan menjual rumah tentunya kita perlu mengurus biaya-biaya administrasi saat proses jual beli akan dilangsungkan. Misalnya saja, ketika akan menjual rumah sebaiknya menggunakan jasa notaris agar secara hukum tidak ada kesalahan-kealahan yang merugikan di masa yang akan datang.

Nah, selain biaya jasa notaris, masih terdapat biaya-biaya lainnya yang cukup banyak. Sebagai contoh Biaya Akta Jual Beli (AJB), balik nama sertifikat, validasi pajak dan mungkin saja ada biaya tambahan sesuai kesepakatan kita dengan pihak notaris.

Biaya ini masih akan bertambah lagi dengan dengan Pajak Bumi dan Bangunan, dan Pajak Penghasilan. Nilai semua biaya-biaya ini jika ditotal secara keseluruhan cukup tinggi. Oleh karena itu, perlunya untuk menetapkan harga rumah yang setidaknya sudah diperhitungkan dengan tambahan biaya-biaya administrasi ini.

Dengan catatan, saat memasang iklan “rumah dijual” nanti, kita menyebut bahwa harga rumah sudah termasuk biaya-biaya administrasi dalam proses pembelian. Calon pembeli pun pasti mengerti dengan kondisi ini, dan tentunya akan lebih mudah bagi mereka, karena tidak perlu lagi mengurus biaya-biaya ini ketika proses negoisasi jual-beli sedang berlangsung.

Tidak percaya dengan notaris

Kesalahan berikutya yang bisa dihindari adalah mengurus semua penjualan rumah secara mandiri. Artinya kita tidak bekerjasama dengan notaris untuk mengurus surat-surat yang berkaitan dengan legalitas penjualan rumah.

Apalagi jika menjual rumah biasanya sangat erat kaitannya dengan legalitas penjualan. Sayangnya masih banyak masyarakat yang hanya memikirkan rumah tersebut terjual secara cepat, tanpa mempertimbangkan aspek legalitasnya.

Oleh karena itu, hindari untuk mengurus semuanya secara sendiri. Percayakan dan berkonsultasi dengan notaris adalah langkah tepat sebelum menjual rumah supaya gak sulit laku.

Bekerjasama dengan agen yang tidak kredibel

Menjual rumah dengan bekerjasama melalui agen-agen properti merupakan salah satu cara yang cukup sering dilakukan untuk menjual rumah. Namun jangan salah langkah dalam memilih agen properti.

Pilihlah agen-agen properti yang memang sudah memiliki reputasi yang baik. Jika salah dalam memilih agen, atau kebetulan bertemu dengan agen yang “nakal” bisa-bisa penjual rumah justru sulit laku dalam menjual dan mengalami kerugian.


Konten ini adalah kerjasama antara UrbanLife.id dengan Megakarya Propertyndo.

© 2017 Urbanlife.id