Waspada, Ini 3 Modus Penipuan Jual Beli Properti Online yang Kini Kian Marak Terjadi

Jumlah populasi masyarakat Indonesia kurang lebih ada 260 juta jiwa. Jumlah itu semakin bertambah dari tahun ke tahun, lho! Kebayang gak sih, sebesar apa lonjakan permintaan akan properti online di zaman digital?

Rumah juga merupakan kebutuhan pokok, bukan? Kamu pun pasti butuh rumah, baik itu berupa rumah tapak ataupun apartemen. Jadi wajar saja bila sebagian dari kamu banyak yang semangat benget pas mencari informasi properti di internet. Apalagi sekarang beli properti pun bisa online, jadi semua makin mudah.

Kamu mau membeli properti secara online? Ya gak masalah, boleh-boleh saja. Zaman sudah makin canggih kok. Tapi penipu juga makin jago, lho!

Wajib diketahui kalau bukan hanya urusan dagang pakaian, barang elektronik atau pernak-pernik lain yang banyak tukang tipunya. Gak sedikit juga tukang tipu yang beroperasi dalam penjualan properti online.

Makanya, sebelum memutuskan untuk beli properti secara online, kamu harus paham modus seperti apa yang dilakukan para pelaku penipuan terhadap korban. Yuk, kita telusuri lebih lanjut ulasannya!

1. Modus jual harga properti online di bawah harga pasaran

Harga properti memang mengalami kenaikan seiring dengan berjalannya waktu. Bila kamu tinggal di Jakarta, sudah tahu kan berapa kisaran harganya? Rumah kecil saja kalau lokasinya strategis, harganya bisa lebih tinggi ketimbang rumah dengan ukuran yang sama di Jawa Barat misalnya.

Jika kamu menemukan iklan rumah yang harganya kelewat murah dari pasaran, jangan keburu nafsu langsung bayar booking fee ke penjual. Kamu justru patut curiga akan hal ini.

Korban tentu tertarik dengan tawaran rumah murah. Tapi setelah korban membayar booking fee ke penjual, si penjual justru kabur bak hilang ditelan bumi. Kalau sudah begini ya apes lah, duit hilang gak jelas ke mana.

2. Modus promosi online lewat komunitas

Kalau yang ini, si pelaku biasanya memanfaatkan akun jejaring sosial untuk bergabung dalam komunitas tertentu. Komunitas yang dituju cukup beragam, bisa saja komunitas pecinta anjing, komunitas olahraga, mobil, motor atau yang lain.

Faktor kepercayaan antar anggota komunitas memang cukup tinggi, apalagi kalau sudah akrab. Karena tujuan dari terbentuknya komunitas adalah sebagai wadah berkumpul orang-orang yang punya tujuan atau hobi yang sama.

Pelaku pasti paham bahwa komunitas itu berisi orang-orang dengan status ekonomi mapan. Nah dari situlah dia menjalankan aksinya, pertama tentu dengan mengakrabkan diri dulu. Dan selanjutnya mulai main tipu-tipu deh.

3. Membajak iklan

Penipu juga bisa membajak iklan real estate asli dengan mencantumkan nomor kontak informasi dan email yang tertera. Ini lebih mengerikan, lho!

Media iklannya pasti menjanjikan, desain brosur rapi dan menjanjikan. Tapi penjualnya ternyata palsu.

Ketika korban transfer dana ke si penjual, penjual kabur begitu saja. Ketika si korban minta klarifikasi ke developer, tentu developer gak bakal bisa bertanggung jawab atas hal ini. Ya iyalah mereka juga kecolongan kan.

So, besok kalau mau beli properti online jangan buru-buru ya. Kalau lihat iklan huniannya, telepon si penjual dan ajak ketemuan lihat rumah.

Pokoknya, cari tahu informasinya yang lengkap deh. Jangan setengah-setengah. Selamat berburu properti!


Konten ini adalah kerjasama antara UrbanLife.id dengan Megakarya Propertyndo.

© 2017 Urbanlife.id