Supaya Gak Salah Pilih KPR, Pelajari Dulu Nih Suku Bunga Acuan Bank

Masalah pinjam-meminjam uang bisa dibilang udah gak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari, termasuk soal suku bunga acuan bank.

Coba, sekarang siapa sih yang gak pernah minjem duit? Mau itu pinjam ke teman buat sekadar makan siang, pinjam ke ortu lantaran gaji bulanan udah sekarat, sampai pinjam ke perusahaan leasing buat kredit kendaraan.

Berani jamin, semua orang pasti pernah ngelakuin salah satunya.

Nah, buat yang lagi butuh minjem duit dalam jumlah besar, sudah pasti bank yang jadi sasaran. Tapi pinjam uang ke bank tidak seperti pinjam ke teman atau orangtua.

Ada prosedur, persyaratan, dan ketentuan-ketentuan lain yang kamu harus tahu. Salah satunya adalah soal bunga pinjaman.

Kalau kamu pinjam uang ke teman, pastinya jumlah yang kamu balikin sama dengan jumlah uang yang kamu pinjam kan? Nah, kalau pinjam ke bank, kamu harus mengembalikan uangnya dengan jumlah yang lebih besar.

Kenapa? Karena bank memberlakukan bunga kredit atau bunga pinjaman.

Ini juga yang berlaku kalau kamu mau mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pinjaman untuk beli rumah atau apartemen kamu itu pasti dikenakan bunga oleh bank, sehingga jumlah uang yang kamu lunasi nanti pastinya akan lebih besar dari harga rumah.

Pertanyaan selanjutnya adalah berapa besarnya bunga yang dikenakan untuk KPR kamu? Nah, untuk menjawabnya, kamu harus tahu dulu suku bunga acuan yang dipakai oleh bank yang bersangkutan dalam menetapkan bunga KPR.  Ini yang akan kita bahas dalam artikel kali ini. Simak ya!

Suku Bunga Acuan Bank Indonesia (BI Rate)

Menurut situs Bank Indonesia, BI rate adalah suku bunga yang mencerminkan kebijakan sikap moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik.

Besarannya berubah-ubah, tergantung kondisi ekonomi saat itu.

Nah, sekarang BI juga memperkenalkan suku bunga acuan baru, namanya BI 7-Day Repo Rate. Kalau BI rate biasa dievaluasi tiap tahun atau lebih, BI 7-day repo rate ini bakal terus diperbarui tiap bulan dan dinilai lebih akurat dijadikan acuan bagi pelaku di industri perbankan, pasar uang, dan sektor riil.

Suku bunga baru ini efektif berlaku mulai 19 Agustus 2016. Kamu bisa cek besaran suku bunganya di situs BI juga.

Pada dasarnya, semua kredit dari bank pasti mengacu ke suku bunga ini. Kalau BI rate naik 50 basis poin, sudah pasti bank langsung naikin suku bunga kreditnya 50 basis poin juga.

Cuma, ada beberapa bank yang menawarkan produk KPR yang langsung mengacu ke BI rate untuk menarik minat nasabah.

Soalnya, bunga KPR menjadi terlihat lebih rendah jika dibanding suku bunga kredit bank atau suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Padahal, perlu dicatat, kalau besaran BI rate pada akhirnya bukanlah bunga final yang kamu bayar, masih ada variabel lain yang akan ditambahkan.

Misalnya, kamu ngambil KPR dengan bunga floating di Bank ABC. Besaran bunga kamu dihitung dari BI rate yang berlaku saat itu ditambah variabel X yang ditetapkan oleh bank.

Besar variabel X ini tergantung dari profil risiko kamu dan kebijakan dari Bank ABC.

Contoh bunga di cicilan bulan pertama:

BI rate = 6,75 persen

Variabel X = 5 persen

Bunga final KPR kamu: 6,75 + 5 = 11,75 persen

Jadi, kalau bulan berikutnya BI rate naik jadi 7 persen, maka bunga KPR kamu menjadi 12 persen. Terus begitu setiap bulannya. Jadi, jangan terkecoh ya. Cek dulu besar bunga final yang harus kamu bayar.

Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

Selain BI rate, suku bunga lain yang sering menjadi acuan untuk KPR adalah suku bunga SBI.

Apa sih SBI? SBI adalah surat berharga yang dikeluarkan Bank Indonesia untuk mengatur peredaran uang di pasar. Suku bunga SBI merupakan suku bunga yang terbentuk pada saat pelelangan SBI dalam satu periode waktu tertentu.

Karena SBI adalah surat berharga dan terdiri dari beberapa tenor, maka besaran suku bunganya pun berbeda-beda. Jadi kalau kamu mau ngambil KPR yang mengacu ke suku bunga ini, perhatikan SBI tenor berapa yang jadi acuan.

Kamu juga perlu rajin-rajin ngecek hasil lelang SBI di website resmi BI, biar ga kaget kalau sewaktu-waktu bunga SBI yang jadi acuan KPR kamu naik.

Besaran suku bunga SBI bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari BI rate, tergantung dari kondisi pasar saat itu. Sama kayak BI rate, bunga KPR yang mengacu kepada SBI, pasti lebih tinggi dari suku bunga SBI yang berlaku.

Karena, masih ada variabel lain yang ditambahkan ke perhitungan bunga seperti profil risiko dan kebijakan bank.

Contoh, Annas mengambil KPR floating di Bank XYZ. Besaran bunga Annas tiap bulan adalah SBI 12 bulan ditambah variabel O. Maka hitungan bunga kamu di bulan pertama cicilan:

Suku bunga SBI tenor 12 bulan = 6 persen

Variabel O = 3,25 persen

Total bunga KPR Annas = 6 + 3,25 = 9,25 persen

Kalau di bulan berikutnya SBI tenor 12 bulan naik jadi 8 persen, bunga KPR kamu berarti ikut naik jadi 8 + 3,25 = 11,25 persen. Begitu seterusnya sampai masa cicilan kamu habis.

Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK)

SBDK adalah suku bunga acuan yang ditetapkan perbankan untuk memberikan kredit kepada debitur. Tiap bank menetapkan SBDK yang berbeda-beda, yang bisa kamu cek di situs BI secara berkala.

Besaran SBDK biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan BI rate atau suku bunga SBI. Bunga final KPR kamu yang mengacu ke SBDK, sudah pasti lebih tinggi dari SBDK bank karena belum termasuk hitungan premi risiko.

Rata-rata, produk KPR yang dikeluarkan bank-bank di Indonesia mengacunya ke suku bunga ini. Tapi untuk menarik nasabah, bank biasanya mengiming-imingi penawaran bunga kombinasi yang terdiri dari fixed rate di tahun-tahun pertama cicilan, dan floating setelahnya.

Nah, besaran bunga fixed di awal cicilan ini biasanya dipatok jauh lebih rendah dari SBDK bank.

Misalnya, Juni mengambil KPR di Bank PQR dengan kombinasi bunga fixed + floating yang mengacu ke SBDK. Tenor pinjaman adalah 20 tahun.

SBDK Bank PQR = 12 persen

Bunga fix 3 tahun pertama = 8 persen

Bunga floating  17 tahun setelahnya = mengikuti SBDK + 2 persen (premi risiko, dll)

Bisa dilihat kalau pada tiga tahun pertama, bunga KPR Juni berada jauh di bawah SBDK Bank PQR. Tapi setelahnya, bunga langsung naik sampai dua digit. Belum lagi ditambah premi risiko dan kebijakan bank PQR.

Nah, sekarang sudah tahu kan jenis-jenis bunga acuan buat KPR? Jadi kamu bisa lebih matang dalam memilih produk KPR nanti.

Buat yang suka transparansi, bisa milih bunga KPR yang mengacu ke BI rate atau SBI karena kamu bisa cek sendiri angkanya di website resmi Bank Indonesia.

Tapi, buat kamu yang pengen nabung dulu di tahun-tahun pertama cicilan, produk KPR yang mengacu ke SBDK bisa dijadikan pertimbangan.

Karena produk KPR jenis ini biasanya menawarkan bunga kombinasi antara bunga fixed dan bunga floating, sehingga cicilan kamu besarnya tetap sama selama masa awal pinjaman.


Konten ini adalah kerjasama antara UrbanLife.id dengan Megakarya Propertyndo.

© 2017 Urbanlife.id