Mau Mengambil Kredit Properti tapi Pasangan Masuk “Blacklist” BI, Apa yang Harus Dilakukan?

Bagi pasangan suami istri baru, punya hunian sendiri tentunya menjadi impian. Kalaupun belum ada uang cukup, bisa ambil kredit properti. Tapi, uang muka saja belum cukup buat mastiin hunian itu bisa jadi milik sendiri. Apalagi jika ternyata pasangan masuk blacklist BI.

Misalnya, uang muka ditetapkan bank 20 persen dari harga rumah atau apartemen incaranmu, seperti ketentuan saat ini. Dengan harga Rp 300 juta, berarti setidaknya Rp 60 juta ada di tangan buat persekot.

Namun ingat, Rp 60 juta itu hanya DP-nya. Masih ada biaya-biaya lainnya untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), seperti notaris dan biaya bank.

Jika ditotal, duit yang mesti dikeluarkan sebagai tanda jadi pembelian properti itu lewat KPR atau KPA bisa sampai Rp 120 juta.

Nah, meski Urbaners sudah menyediakan uang Rp 180 juta, misalnya, gak berarti permohonan KPR atau KPA kita bakal diterima, lho!

(Baca juga: Langkah Jitu Memilih Cicilan KPR atau KPA yang Sesuai)

Dalam proses KPR dan KPA, ada yang namanya BI Checking. Bank Indonesia selaku bank sentral berkewajiban mencatat segala riwayat keuangan kita terkait dengan lembaga keuangan, seperti bank, Pegadaian, bahkan leasing.

Riwayat ini berisi catatan yang terutama berhubungan dengan kredit di lembaga keuangan tersebut. Seumpamanya, kita belum pernah ngajuin kredit, maka catatan itu bersih.

Begitu juga jika segala kredit yang pernah kita terima sudah lunas. Ini termasuk tagihan kartu kredit, ya!

Sebaliknya, jika punya masalah kredit, misalnya ada tagihan yang tertunggak, kita akan masuk daftar hitam alias blacklist BI. Akibatnya, segala urusan kredit selanjutnya bakal susah. Termasuk kredit rumah atau apartemen.

Saat kita mengajukan permohonan KPR dan KPA, bank yang kita tuju akan melakukan proses BI Checking ini. Kalau ternyata Urbaners masuk daftar hitam, 99 persen permohonan akan ditolak.

Bank akan berpikir, lha ini kredit yang lain aja bermasalah, gimana mau bayar KPR atau KPA yang sifatnya jangka panjang. Lantaran yang mengajukan adalah pasangan, otomatis bank akan mengecek riwayat keuangan masing-masing suami dan istri.

Untuk itu, semestinya pasangan saling terbuka dulu soal keuangan sebelum memutuskan hal serius seperti mengambil KPR atau KPA. Sebab, bebannya bakal ditanggung bersama oleh keluarga.

(Baca juga: Sebelum Menikah, Coba Bicarakan Dulu 5 Topik Keuangan Ini dengan Pasanganmu)

Tapi jika permohonan sudah telanjur ditolak, bukan saatnya main salah-salahan. Justru kita mesti menempuh langkah selanjutnya. Apalagi jika ternyata pasanganmu mengaku gak punya masalah kredit.

Jangan-jangan ada yang salah. Ya, proses BI Checking bisa saja keliru. Misalnya, tunggakan sebenarnya sudah lunas, tapi ternyata belum masuk data BI.

Jadi, kalau Urbaners mau mengambil KPR atau KPA tapi pasangan masuk blacklist BI, sebaiknya lakukan langkah ini:

  1. Datang ke BI atau kantor cabangnya yang terdekat untuk menanyakan perihal blacklist itu
  2. Jika merasa gak punya masalah kredit, bawa bukti yang menyatakan segala tagihan sudah lunas
  3. Minta revisi blacklist ke BI, lalu coba masukkan aplikasi KPR atau KPA lagi
  4. Kalau ternyata memang punya masalah kredit, selesaikan dulu sebelum ambil KPR atau KPA

Satu-satunya cara menyelesaikan masalah kredit jelas melunasinya. Tapi, jika ada halangan, terdapat beberapa solusi yang bisa diambil untuk menyiasati masalah tersebut. Misalnya, minta restrukturisasi utang.

(Baca juga: 5 Strategi Bebas Utang Saat Kredit Properti)

Bank akan dengan senang hati menerima konsultasi soal utang kita. Itu lebih baik ketimbang kita kabur, karena gak akan menyelesaikan masalah. Intinya, Urbaners tetap bisa punya hunian sendiri lewat KPR atau KPA meski pasangan ada masalah kredit.

Tapi ya itu, diselesaikan dulu masalahnya, baru bisa lancar proses kredit propertinya.

© 2017 Urbanlife.id